STRES ANAK MENJELANG UJIAN
SETELAH lama terlena oleh optimisme ”pasti lulus ujian”, beberapa tahun belakangan kondisi berubah drastis, saat pemerintah menerapkan standardisasi angka kelulusan. Tak ada katrol-mengatrol angka seperti dulu lagi, tak pelak membuat jantung orang tua berdentam, mengkhawatirkan sang buah hati tak lulus Ujian Nasional. Yang dicemaskan malah tampak tenang dengan keceriaan khas remaja. Akan tetapi, itu hanya di permukaan, diam-diam mereka juga kebat-kebit,beberapa bahkan sampai pada kondisi stres.
”Kita orang tua yang cemas. Saya lihat anak saya malah tenang-tenang saja,” kata seorang ibu di sebuah sekolah menengah pertama negeri di Kota Bandung. Bersama orang tua lainnya, ia tengah menanti pembagian rapor anak kelas III semester I, akhir tahun lalu. Beberapa ibu mengangguk, tanda menyetujui pengamatan itu.
Tenyata perkiraan itu tidak sepenuhnya benar. Dalam kesempatan lain, penulis menanyakan langsung pada anaknya tentang apa yang dirasakannya. ”Iih… deg-degan sekali… kepikiran gimana kalau enggak lulus ? Kebayang pasti malu sama teman-teman, belum lagi kalau dimarahin papa mama, stres… gitu,” kata remaja laki-laki tersebut dengan bahasa masa kini.
Begitulah, banyak orang tua tidak paham kondisi psikis anak-anak mereka. Kondisi ini baru terbongkar setelah berbagai symptom (gejala) stres muncul di permukaan dalam bentuk gangguan psikis dan fisik, seperti gelisah, sulit tidur, punggung pegal, sakit pinggang (bokong, engsel pundak, kaki, betis), tangan pegal-pegal, sulit berjalan/berat, lutut tidak bisa ditekuk, telapak kaki terasa kebas/ baal, muncul epilepsi, phobi binatang dan sebagainya.
Beberapa orang tua menggiring anaknya datang pada ahli psikologi ketika gejala-gejala gangguan psikis dan fisik itu muncul. Salah satu tempat praktik yang sering kebanjiran klien kecil dalam kaitan ini adalah Biro Konsultasi Psikologi Westaria, di daerah Bandung Timur.
”Ada yang mengantarkan anak sakit mag yang tidak sembuh-sembuh dan ingin mencari tahu dari sisi psikis. Terdeteksi, ternyata mereka stres menghadapi ujian,” ujar psikolog di tempat itu, Dra. Yuli Suliswidiawati, M.Psi.
Malas belajar
Beberapa orang tua lainnya mengantarkan anak memang dalam kaitan menghadapi ujian nasional. Mereka bingung menghadapi sang buah hati yang malas belajar. Kerja mereka hanya bermain PS, menonton televisi, main bola, game online, Facebook, SMS-an, mendengarkan musik atau radio. ”Ini sebenarnya adalah sederet efek dari rasa stres menghadapi ujian, ”ujarnya.
Ia menyebutkan, gejala lainnya berupa malas makan, malas keluar kamar atau malas mengobrol. Kebalikannya di sekolah ia suka mengobrol, lebih suka bercanda, memainkan alat tulis, mencoret-coret buku, memainkan telefon seluler, memperhatikan orang ketimbang belajar.
”Semakin mendekati Ujian Nasional (UN) saya merasa makin tegang dan takut. Akan tetapi, anehnya malah makin malas belajar, semakin susah konsentrasi. Akhirnya saya jadi kesal sama diri sendiri dan jadi sedih, Bu,” kata Yuli menuturkan keluh kesah seorang pelajar kepadanya.
Menurut Yuli, di awal konsultasi umumnya klien kecilnya mengutarakan bahwa perasaan-perasaan negatif tersebut lebih disebabkan karena ketidaksiapan dirinya. Perasaan negatif lainnya adalah karena ketidakjelasan informasi tentang Ujian Nasional itu sendiri. Mereka berhenti dengan kata ”bingung bu”, dan merasa terlalu banyak yang berkecamuk di benaknya.
Dari hasil penelusuran Yuli, perasaan berkecamuk itu memang benar-benar campur aduk, antara lain merasa harus lulus, ingin lulus dengan nilai baik, ingin bisa masuk sekolah yang diinginkan, tegang karena takut tidak lulus, takut nilai jelek, takut tidak bisa masuk sekolah yang diinginkan, takut tidak bisa menjawab soal ujian, takut jika sedang ujian mendadak blank, takut panik, takut pengawasnya galak, takut salah melingkari, takut salah mengisi data pribadi, dan takut malu pada teman.
Takut orang tua
Dari proses terapi, Yuli mengaku menemukan hal yang sangat mengejutkan. Terungkap bahwa sebagian dari penyebab stres yang terjadi pada mereka yang akan menghadapi UN itu adalah ”ketakutan-ketakutan” yang berkaitan dengan orang tua mereka. Anak takut dimarahi orang tua, takut mengecewakan orang tua, takut dipermalukan orang tua di depan teman, takut orang tua marah kalau hasilnya kurang memuaskan, takut orang tua kecewa jika mendapat nilai tidak baik, takut tidak dapat masuk sekolah yang diinginkan orang tua, takut tidak bisa sebaik saudara dan teman yang selama ini selalu menjadi bahan perbandingan dari orang tua dan takut kehilangan fasilitas yang selama ini selalu menjadi ancaman orang tua.
”Ternyata ketegangan atau stres yang berasal dari tekanan orang tua jauh lebih besar dirasakan oleh anak daripada stres yang berasal dari kesiapan diri dan sistem pelaksanaan Ujian Nasional itu sendiri,” ujar Yuli.
Menurut Yuli, anak-anak ini juga mengungkapkan perasaan-perasaan negatif seperti sebal dengan cara orang tua menasihati yang dianggap cerewet atau bawel, tidak suka cara orang tua menyuruh belajar, sebal pada orang tua atau guru karena merasa tidak pernah dihargai, selalu disepelekan, dibanding-bandingkan, atau direndahkan. Rasa sebal itu juga bersatu padu dengan perasaan sedih, merasa bersalah, berdosa, sakit hati, dan tidak berdaya.
Ya, ternyata orang tua menjadi salah satu pemeran sentral dalam menciptakan stres pada anak. Hal ini layak menjadi masukan bagi orangtua, untuk mencari pola asuh yang benar agar terjadi win-win solution. Memberikan motivasi pada anak, tetapi dengan cara yang tidak membuat anak malah merasa terpojok, panik atau stres.
Yuli menenggarai ada cara yang salah yang diterapkan orang tua dalam mengasuh, mengembangkan, membimbing, dan mendidik anak. Beberapa cara salah yang sering dilakukan yang membuat anak merasa tegang dan tidak nyaman adalah:
1. Menyuruh anak belajar atau melakukan sesuatu, bukan dengan cara mengajak.
2. Menentukan target pencapaian dari perkembangan atau pendidikan anak lewat hal-hal yang terukur atau materialistis, seperti angka atau nilai ulangan, nilai rapor, ranking, sekolah unggulan atau prestasi-prestasi lain yang terukur, daripada hal lain seperti kejujuran dan keluhuran akhlak serta kebaikan dan kebahagiaan anak itu sendiri.
3. Lebih banyak memberikan hukuman atas kesalahan anak daripada memberikan pujian terhadap perbuatan baiknya.
4. Memotivasi anak dengan cara membanding-bandingkan dengan orang lain dan bukan membandingkan dengan dirinya sendiri.
Berdasarkan fakta tersebut, Yuli memberikan beberapa pegangan bagi orang tua, untuk mengubah pola itu, yaitu :
1. Fokus pada proses usaha yang dilakukan anak, tidak pada hasil atau nilai. Artinya, orang tua harus belajar menghargai usaha yang sudah dilakukan oleh anak, apa pun hasilnya. Hal ini akan membawa dampak positif pada semangat anak, pada gilirannya akan memunculkan semangat baru bagi si anak untuk lebih baik.
2. Jangan memotivasi anak dengan cara membandingkan dengan orang lain walaupun dengan saudaranya sendiri.
3. Yakinkan pada anak bahwa tugas utama yang harus dilakukannya adalah melakukan ikhtiar dengan maksimal dan dengan cara yang benar, sesuai dengan perintah dan larangan-Nya. Selanjutnya berdoa dan memintalah kepada Allah. Maka apa pun hasil akhir adalah yang terbaik untuk dirinya, juga untuk semua orang. (Uci Anwar)***
(http://newspaper.pikiran-rakyat.com/prprint.php?mib=beritadetail&id=129914)