Bkpwestaria's Blog

Just another WordPress.com weblog

Meninggalkan Bisnis Rokok Maret 30, 2010

Filed under: artikel — westaria @ 3:33 am

Orang-Orang Yang Meninggalkan Bisnis Rokok

Pada tahun 1875 R.J. Reynolds mendirikan sebuah perusahaan tembakau kunyah di Carolina Utara. Pada tahun 1913 mereka membuat rokok mereka yang pertama–merk Camel. Dari situ usaha tersebut maju sampai menjadi nomor dua setelah Philip MorisPatrick Reynolds, yang sekarang berumur 40-an. Dahulu ia seorang perokok selama 15 tahun, dan ia memberikan kejutan besar kepada dunia tembakau.

Pada tahun 1986 ia muncul dihadapan sub panitia kongres untuk menentang hal merokok! Sejak itu ia secara tetap berkampanye menentang penggunaan tembakau. Apa yang membangkitkan antipatinya terhadap produk yang telah menghasilkan banyak keuntungan bagi keluarganya? Ia ingat, ketika masih anak-anak ia melihat ayahnya, seorang perokok berat, mati perlahan-lahan karena emfisema. Patrick menyatakan: “Yang saya ingat mengenai ayah saya adalah bahwa ia seorang pria yang selalu susah bernafas, dan selalu menghitung waktu yang masih tersisa untuk hidup.”

Patrick memutuskan untuk berbuat sesuatu yang positif dengan kehidupan. “saya melihat bahwa saya dapat melakukan sesuatu yang penting dan berbuat sesuatu dengan kehidupan saya.” Ia mengatakan bahwa terus mempromosikan “pembunuh-pembunuh yang sudah terbukti bersalah” adalah “amoral.”
“Jikalau tangan yang pernah memberi saya makan adalah industri tembakau, maka tangan yang sama telah membunuh jutaan orang dan akan terus membunuh jutaan lagi kecuali orang-orang sadar akan bahaya dari merokok.”–The New York Times, 25 Oktober 1986.

David Goerlitz adalah model yang terkenal sebagai pria Winston pada iklan rokok Winston. Ia berhenti mengiklankan rokok dan kini menjadi juru bicara bagi Lembaga Kanker Amerika. Apa yang membuat ia berubah? Dalam sebuah wawancara TV, pada tanggal 29 Desember 1988, ia berkata: “Saya mengunjungi abang saya di ruang bagian kanker di sebuah rumah sakit di Boston. Hal tersebut membuat saya berhadapan langsung dengan akibat dari pekerjaan saya–pasien- pasien kanker yang sedang menderita karena merokok. Saya melihat akibat yang sangat merusak pada korban-korban rokok dan korban dari korban-korban tersebut, yaitu keluarga mereka. Saya melihat pria-pria dalam usia 40-an tanpa rambut, slang-slang dalam tenggorokan dan perut mereka. Saya merasa bersalah dan memutuskan untuk berhenti mengiklankan tembakau.

[Sumber : Sedarlah! "Dijual Maut"- g IN No. 31, h. 15]

======================================

Sekedar memberikan informasi dari milis tetangga bagi Anda yang tertarik utuk berhenti merokok dengan cara cepat dapat menghubungi WESTARIA.

 

Kanaan, Ciwidey Maret 21, 2010

Filed under: events — westaria @ 5:59 am

 

WESTARIA goes to Cieunteung Maret 19, 2010

Filed under: events — westaria @ 1:26 pm

 

CARA MENDIDIK ANAK SUPAYA TANGGUH Maret 17, 2010

Filed under: artikel — westaria @ 7:27 am

CARA MENDIDIK ANAK SUPAYA TANGGUH

Mendidik Anak Tangguh (Oleh2 dari Seminar)

Memenuhi janji… berikut ini catatan saya dari seminar ini.

Pembicara pertama, Dra. Yuli Suliswidiawati M. Psi, menceritakan berbagai contoh kasus dampak negatif pada anak yang timbul akibat konflik ortu, baik itu konflik terbuka atau tertutup (ada ortu yg tidak terang2an berantem di depan anak, berusaha menyembunyikannya, namun si anak tetap tahu dan akhirnya depresi). Duh, contoh2 kasus yg diceritakan bu Yuli benar2 membuat saya merinding… serem banget… naudzu billah mindzalik.

Nah, Bu Yuli mengatakan, umumnya, suami-istri yg datang utk berkonsultasi dgnnya adalah karena ada masalah pada anaknya (misalnya, anaknya jadi nakal dan acuh tak acuh pada ortu), kemudian, setelah ditelusuri, biasanya terbukti bhw sumbernya adalah konflik ortu. Karena itu, terapi yg hrs dilakukan adalah terapi keluarga. Suami-istri hrs bisa menyelesaikan dulu konfliknya  (atau minimalnya, mampu menghadapi permasalah yg ada dgn cara yg bijak dan mampu menjelaskan kondisinya pada anak)..baru kemudian anak yg diterapi.

Berikut tips2 yang diberikan Bu Yuli utk suami-istri bermasalah:

  1. Hindari konflik terbuka (bertengkar di depan anak)
  2. Kembangkan kemampuan manajemen emosi (kesadaran, penerimaan, pemaafan), tdk melakukan pelampiasan emosi yg reaktif
  3. Kembangkan komunikasi yg efektif
  4. Koreksi niat berkeluarga (upayakan selalu ingat tujuan hidupàridho Allahàibadah)

Bila konflik sudah terlanjur terbuka, dan anak tahu bhw orangtua mereka bermasalah, maka, langkah yg hrs dilakukan adalah; komunikasikan kepada anak sebuah alasan yg dapat menenangkan dan dapat dipahami anak; serta jelaskan pada anak bahwa apapun yg terjadi antara ortu, tdk akan mempengaruhi tugas-tanggung jawab ortu pada anak.

Bila dampak neagatif sdh terlanjur terjadi pada anak: berkonsultasilah dg psikolog.

http://bundakirana.multiply.com/journal/item/227

 

Terapi Massal UN 7 Maret 2010 Maret 17, 2010

Filed under: events — westaria @ 6:47 am

TERAPI MASSAL MENGHADAPI UN

7 Maret 2010

Akhirnya terlaksana juga acara terapi massal ini, setelah terjadi pengunduran pada bulan Februari lalu. Pada tanggal 7 maret 2010 lalu, Biro Konsultasi Psikologi WESTARIA bekerja sama dengan KIDZSMILE, PT.INTI, LP2I, Kharisma, dan Fakultas Psikologi UPI YAI, mengadakan terapi massal khusus bagi para siswa/I yang akan menghadapu Ujian Nasional (UN) yang bertempat di kantor PT.INTI, Bandung.

Acara ini merupakan salah satu wujud kepedulian terhadap pendidikan anak. Dari fenomena yang tertangkap, dapat disimpulkan bahwa terjadi kecemasan dan ketegangan yang sekarang ini sedang menjadi tren di kalangan siswa/I yang akan menghadapi UN. Padahal mereka sudah merasa giat belajar, mangikuti remidial, belum lagi bimbel di luar sekolah. Hal ini lumrah dilakukan oleh setiap siswa. Dengan tujuan agar hasil yang mereka dapatkan maksimal dan sesuai dengan keinginan. Tetapi ternyata tak hanya melulu soal belajar yang harus dipersiapkan, jasmani dan mental pun perlu diperhatikan.

Nah….ini dia, masalah mental. Berbagai tekanan dan tuntutan dari berbagai macam pihak menjadi salah satu permasalahan calon peserta UN, seperti yang dikatakan oleh Master Trainer EFT plus Dra. Yuli Suliswidiawati, M.Psi selaku pembicara pada acara terapi massal tersebut.

UN…..

Kata-kata tersebut yang selalu terngiang dalam benak setiap siswa/i yang akan menjalani UN, sesuatu yang “menakutkan”. Pasti terasa bosan mendengarnya, malah kadang menjadi kesal dan marah ketika mengungkit-ungkit kata yang satu itu, ajaib memang. Dalam tahap inilah siswa/i harus berjuang demi mendapatkan yang terbaik.

Tak sedikit tuntutan orang tua agar anaknya menjadi orang yang sukses dan berhasil. Yang masih menjadi pola pikir orang tua saat ini adalah :“pinter, ranking, sekolah pilihan, kuliah,

lulus bagus,kerja bagus, gajih besar, kaya”. Padahal, tak semuanya harus berjalan seperti itu, karena belum tentu masuk sekolah pilihan akan menjadi “orang pilihan” juga di masa yang akan datang. Banyak jalan yang bisa diusahakan untuk menjadi sukses. Dan terkadang, orang tua memberikan nasehat yang mungkin dalam penyampainnya kurang tepat, sehingga kadang malah menyinggung perasaan sang anak.

Ada beberapa hal umum yang dirasakan oleh para peserta terapi massal kemarin, diantaranya yaitu :

  • Tegang karena takut ga lulus ujian
  • Takut nilainya jelek
  • Takut tidak bisa masuk sekolah yg diinginkan
  • Takut dimarah orang tua
  • Takut mengecewakan orang tua
  • Takut ga bisa jawab soal ujian
  • Takut kalau sedang ujian jadi blank
  • Takut panik
  • Takut pengawasnya galak
  • Takut salah melingkari
  • Takut salah mengisi data pribadi
  • Takut jadi malu sama teman
  • Takut dipermalukan orang tua depan teman-temannya (dibanding-bandingkan dengan orang lain yang lebih baik)

Ketakutan itulah yang akhirnya membuat anak stres dan tegang dalam mengahadapi UN nantinya, belum lagi kondisi lingkungan yang kurang kondusif. Pada saat seperti inilah, lingkungan harus ikut serta mendukung, terutama dimulai dari lingkungan keluarga. Keluarga tak hanya sekedar menuyuruh belajar, namun harus ikut memberi support.

Efek stres yang sering terjadi di kalangan siswa/i, anatara lain :

  • Di rumah Malas belajar (lebih suka : Main PS, Nonton TV, Main bola, Game on line, FB,Twitter, SMSan, dengarkan musik / radio dll )
  • Malas makan
  • Malas keluar kamar
  • Malas ngobrol
  • Di sekolah malas belajar ( suka bercanda, mainin alat tulis, corat coret buku, gambar-gambarin buku, mainin HP, ngobrol, liatin orang )
  • Di rumah malas belajar karena berisik, suara TV, suara orang-orang, orang tua bawel )
  • Di sekolah malas belajar karena teman-teman berisik, gurunya ga enak, gurunya judes, gurunya galak)
  • Takut sama ayah, ibu, guru,
  • Takut tidak bisa
  • Takut bertanya, takut salah menjawab.
  • Takut tidak ditemani teman / dimusuhin.
  • Takut kalau harus menghadap guru
  • Tidak suka mata pelajaran
  • Tidak suka gurunya

Dampak stres juga dapat mempengaruhi kondisi fisik, diantaranya :

  • —  Punggung pegal dan sakit
  • —  Pinggang dan bokong sakit, bahkan sering disebut ada syaraf kejepit
  • —  Engsel pundak sakit
  • —  Tangan pegal2 bahkan sakit
  • —  Kaki sakit, jalan susah / berat
  • —  Lutut tdk bs ditekuk
  • —  Betis dan pergelangan kaki sakit
  • —  Telapak  terasa baal / kebas
  • —  Epilepsi
  • —  Phobi binatang, peniti dll
  • —  Ada  trauma masa lalu

Selama ini tak ada sarana untuk mengeluarkan emosi negatif mereka. Emsoi negatif tidak dapat dikeluarkan karena terkait dengan norma-norma yang berlaku di masyarakat. Metode EFT plus ini merupakan salah satu teknik yang memperbolehkan orang untuk melampiaskan segala emosi negatifnya. Emosi inilah yang kemudian keluar dari para peserta terapi massal kemarin. Mereka bebas menangis, marah, mencaci-maki, menononjok, menendang, atau bahkan berteriak sekali pun. Hal itu terjadi ketika mereka mulai berkonsentrasi merasakan perasaan mereka masing-masing. Terlintas di dalam bayangan mereka sosok-sosok yang pernah membuat mereka malu, kecewa, marah, sedih, bahkan sampai dendam. Memang emosi seperti  itulah yang ingin diangkat, tujuannya adalah agar emosi itu lepas dan pada akhirnya dapat memberikan perasaan lega, tenang, bahkan mengubah pola pikir mereka menjadi lebih baik.

Dapat terkuak dari respon yang para peserta keluarkan, bahwa lingkungan pertemanan menjadi penyebab emosi negatif mereka selain lingkungan keluarga. Persaingan yang tidak sehat antar teman se-sekolah, se-kelas, bahkan se-gank, adanya rasa terintimidasi dalam suatu kelompok, itu semua permasalahan yang tak jarang terjadi dalam kehidupan pertemanan mereka. Perasaan kecewa, sedih, malu, bahkan marah yang tak dapat mereka ungkapkan akhirnya mengendap begitu dalamnya, sehingga kadang tak lagi teringat. Mengabaikan bukan berarti membuat permasalahan selesai, malah lama kelamaan akan menumpuk dan sewaktu-waktu akan meledak pada saat yang tak terduga. Itu akan lebih dahsyat.

Dengan lepasnya berbagai emosi negatif tersebut, diharapkan siswa/I yang akan menhadapi UN dapat menjalaninya dengan tenang dan santai. Tak lagi dibebani oleh berbagai macam  tuntutan dan semakin percaya diri dalam menjalaninya. (put)

Semoga sukses para calon peserta UN

-make your life better-

 

Maret 17, 2010

Filed under: artikel — westaria @ 5:11 am

STRES ANAK MENJELANG UJIAN

SETELAH lama terlena oleh optimisme ”pasti lulus ujian”, beberapa tahun belakangan kondisi berubah drastis, saat pemerintah menerapkan standardisasi angka kelulusan. Tak ada katrol-mengatrol angka seperti dulu lagi, tak pelak membuat jantung orang tua berdentam, mengkhawatirkan sang buah hati tak lulus Ujian Nasional. Yang dicemaskan malah tampak tenang dengan keceriaan khas remaja. Akan tetapi, itu hanya di permukaan, diam-diam mereka juga kebat-kebit,beberapa bahkan sampai pada kondisi stres.

”Kita orang tua yang cemas. Saya lihat anak saya malah tenang-tenang saja,” kata seorang ibu di sebuah sekolah menengah pertama negeri di Kota Bandung. Bersama orang tua lainnya, ia tengah menanti pembagian rapor anak kelas III semester I, akhir tahun lalu. Beberapa ibu mengangguk, tanda menyetujui pengamatan itu.

Tenyata perkiraan itu tidak sepenuhnya benar. Dalam kesempatan lain, penulis menanyakan langsung pada anaknya tentang apa yang dirasakannya. ”Iih… deg-degan sekali… kepikiran gimana kalau enggak lulus ? Kebayang pasti malu sama teman-teman, belum lagi kalau dimarahin papa mama, stres… gitu,” kata remaja laki-laki  tersebut dengan bahasa masa kini.

Begitulah, banyak orang tua tidak paham kondisi psikis anak-anak mereka. Kondisi ini baru terbongkar setelah berbagai symptom (gejala) stres muncul di permukaan dalam bentuk gangguan psikis dan fisik, seperti gelisah, sulit tidur, punggung pegal, sakit pinggang (bokong, engsel pundak, kaki, betis), tangan pegal-pegal, sulit berjalan/berat, lutut tidak bisa ditekuk, telapak kaki terasa kebas/ baal, muncul epilepsi, phobi binatang dan sebagainya.

Beberapa orang tua menggiring anaknya datang pada ahli psikologi ketika gejala-gejala gangguan psikis dan fisik itu muncul. Salah satu tempat praktik yang sering kebanjiran klien kecil dalam kaitan ini adalah Biro Konsultasi Psikologi Westaria, di daerah Bandung Timur.

”Ada yang mengantarkan anak sakit mag yang tidak sembuh-sembuh dan ingin mencari tahu dari sisi psikis. Terdeteksi, ternyata mereka stres menghadapi ujian,” ujar psikolog di tempat itu, Dra. Yuli Suliswidiawati, M.Psi.

Malas belajar

Beberapa orang tua lainnya mengantarkan anak memang dalam kaitan menghadapi ujian nasional. Mereka bingung menghadapi sang buah hati  yang malas belajar. Kerja mereka hanya bermain  PS, menonton televisi, main bola, game online, Facebook, SMS-an, mendengarkan musik atau radio. ”Ini  sebenarnya adalah sederet efek dari rasa stres menghadapi ujian, ”ujarnya.

Ia menyebutkan, gejala lainnya berupa malas makan, malas keluar kamar atau malas mengobrol. Kebalikannya di sekolah ia suka mengobrol, lebih suka bercanda, memainkan alat tulis, mencoret-coret buku, memainkan telefon seluler, memperhatikan orang ketimbang belajar.

”Semakin mendekati Ujian Nasional (UN) saya  merasa makin tegang dan takut. Akan tetapi, anehnya malah makin malas belajar, semakin susah konsentrasi. Akhirnya saya jadi kesal sama diri sendiri dan jadi sedih, Bu,” kata Yuli menuturkan keluh kesah seorang pelajar kepadanya.

Menurut Yuli, di awal konsultasi umumnya klien kecilnya mengutarakan bahwa perasaan-perasaan negatif tersebut lebih disebabkan karena ketidaksiapan dirinya. Perasaan negatif lainnya adalah karena ketidakjelasan informasi tentang Ujian Nasional itu sendiri. Mereka berhenti dengan kata ”bingung bu”, dan merasa terlalu banyak yang berkecamuk di benaknya.

Dari hasil penelusuran Yuli, perasaan berkecamuk itu memang benar-benar campur aduk, antara lain merasa harus lulus, ingin lulus dengan nilai baik, ingin bisa masuk sekolah yang diinginkan, tegang karena takut tidak lulus, takut nilai jelek, takut tidak bisa masuk sekolah yang diinginkan,  takut tidak bisa menjawab soal ujian, takut jika sedang ujian mendadak blank, takut panik, takut pengawasnya galak, takut salah melingkari, takut salah mengisi data pribadi, dan  takut malu pada teman.

Takut orang tua

Dari proses terapi,  Yuli mengaku menemukan hal yang sangat mengejutkan. Terungkap bahwa sebagian dari penyebab stres yang terjadi pada mereka yang akan menghadapi UN itu adalah ”ketakutan-ketakutan” yang berkaitan dengan orang tua mereka. Anak takut dimarahi orang tua, takut mengecewakan orang tua, takut dipermalukan orang tua di depan teman, takut orang tua marah kalau hasilnya kurang memuaskan, takut orang tua kecewa jika mendapat nilai tidak baik, takut tidak dapat masuk sekolah yang diinginkan orang tua, takut tidak bisa sebaik saudara dan teman yang selama ini selalu menjadi bahan perbandingan dari orang tua dan takut kehilangan fasilitas yang selama ini selalu menjadi ancaman orang tua.

”Ternyata ketegangan atau stres yang berasal dari tekanan orang tua jauh lebih besar dirasakan oleh anak daripada stres yang berasal dari kesiapan diri dan sistem pelaksanaan Ujian Nasional itu sendiri,” ujar Yuli.

Menurut Yuli, anak-anak ini juga mengungkapkan perasaan-perasaan negatif seperti sebal dengan cara orang tua menasihati yang dianggap cerewet atau bawel, tidak suka cara orang tua menyuruh belajar, sebal pada orang tua atau  guru karena merasa tidak pernah dihargai, selalu disepelekan, dibanding-bandingkan, atau direndahkan. Rasa sebal itu juga bersatu padu dengan perasaan sedih, merasa bersalah, berdosa, sakit hati, dan tidak berdaya.

Ya, ternyata orang tua menjadi salah satu pemeran sentral dalam menciptakan stres pada anak. Hal ini layak menjadi masukan bagi orangtua, untuk  mencari pola asuh yang benar agar terjadi win-win solution. Memberikan motivasi pada anak, tetapi dengan cara yang tidak membuat anak malah merasa terpojok, panik atau stres.

Yuli menenggarai ada cara yang salah yang diterapkan orang tua  dalam mengasuh, mengembangkan, membimbing, dan mendidik anak. Beberapa cara salah yang sering dilakukan yang membuat anak merasa tegang dan tidak nyaman adalah:

1.      Menyuruh anak belajar atau melakukan sesuatu, bukan dengan cara mengajak.

2.      Menentukan target pencapaian dari perkembangan atau pendidikan anak lewat hal-hal yang terukur atau  materialistis, seperti  angka atau nilai ulangan, nilai rapor, ranking, sekolah unggulan atau prestasi-prestasi lain yang terukur, daripada hal lain seperti kejujuran dan keluhuran akhlak serta kebaikan dan kebahagiaan anak itu sendiri.

3.      Lebih banyak memberikan hukuman atas kesalahan anak daripada memberikan pujian terhadap perbuatan baiknya.

4.      Memotivasi anak dengan cara membanding-bandingkan dengan orang lain dan bukan membandingkan dengan dirinya sendiri.

Berdasarkan fakta tersebut, Yuli memberikan beberapa pegangan bagi orang tua,  untuk mengubah pola itu, yaitu :

1.      Fokus pada proses usaha yang dilakukan anak, tidak pada hasil atau nilai. Artinya, orang tua harus belajar menghargai usaha yang sudah dilakukan oleh anak, apa pun hasilnya.  Hal ini akan membawa dampak positif  pada semangat anak,  pada gilirannya akan memunculkan semangat baru bagi si anak untuk lebih baik.

2.      Jangan memotivasi anak dengan cara membandingkan dengan orang lain walaupun dengan saudaranya sendiri.

3.      Yakinkan pada anak bahwa tugas utama yang harus dilakukannya adalah melakukan ikhtiar dengan maksimal dan dengan cara yang benar,  sesuai dengan perintah dan larangan-Nya. Selanjutnya berdoa dan memintalah kepada Allah. Maka apa pun hasil akhir adalah yang terbaik untuk dirinya, juga untuk semua orang. (Uci Anwar)***

(http://newspaper.pikiran-rakyat.com/prprint.php?mib=beritadetail&id=129914)

 

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.