BILA ORANG TUA BERCERAI
”Dia broken home, orang tuanya bercerai. Itu sebabnya dia jadi nakal.” Ini salah satu kalimat yang sering terdengar. Apa boleh buat, umumnya perceraian memang menimbulkan dampak negatif. Psikolog dari biro konsultasi psikologi Westaria Bandung, Dra. Yuli Suliswidiawati, M.Psi. menyebutkan, hasil penelitian di Amerika, yang membuktikan bahwa anak-anak hasil perceraian pada masa dewasanya lebih rentan terhadap situasi stres dibandingkan dengan mereka yang orang tuanya tidak bercerai.
”Selain itu, mereka juga merasa tidak puas, sering tidak nyaman berada di antara keluarga dan teman-teman, serta lebih sering menderita kecemasan yang amat sangat dan mengalami kesulitan mengatasi stres kehidupan dalam kehidupan selanjutnya,” jelasnya.
Mengingat betapa beratnya dampak perceraian, Yuli menyarankan, selagi masih bisa, lakukan upaya penyelamatan perkawinan. Pecahnya biduk perkawinan biasanya diawali dengan konflik-konflik. ”Suatu perkawinan hampir tidak mungkin bisa lepas dari konflik. Perkawinan melibatkan dua orang dari keluarga berbeda, kebiasaan berbeda, serta perbedaan-perbedaan lain,” katanya.
Hidup bersama dalam suatu tempat, waktu yang lama, dan dalam hubungan yang intens mampu memunculkan banyak konflik. ”Konflik adalah konsekuensi logis dari kehidupan perkawinan,” katanya. Namun, bila konflik dijalani dengan baik, dalam arti masing-masing pihak dapat mengambil manfaat dan pelajaran dari konflik tersebut, hal ini akan mematangkan diri, penyesuaian diri, penerimaan diri. Sebaliknya, jika konflik tidak disikapi bijak, segala dampak negatif akan muncul.
Dijelaskannya, kualitas perkawinan yang baik ditandai perilaku-perilaku positif, salah satunya berbagi dalam berbagai hal dengan pasangan, seperti berbagi kasih atau memutuskan suatu masalah bersama. Semua ini penting untuk mempertahankan dan merawat perasaan kedekatan di antara pasangan, keintiman, seksualitas, komunikasi yang baik, kejujuran, kepercayaan, dan kebersamaan sebagai tim.
Bila kedua individu yang terlibat dalam perkawinan tidak mampu menjalin kebersamaan dalam melaksanakan hal-hal kecil di rumah tangga, mereka pun akan mendapat kesulitan dalam mengatasi permasalahan hidup yang lebih kompleks di kemudian hari.
Berbagai macam konflik yang terjadi dalam perkawinan dimulai dari konflik dengan intensitas emosional ringan sampai yang berat. Beberapa konflik disertai pula dengan kekerasan fisik dan mental. Kondisi ini tentu saja akan menyita energi fisik dan psikis semua individu, baik suami, istri, maupun anak-anak.
”Terlebih lagi bila konflik itu dilakukan dengan cara ‘terbuka’. Konsekuensi negatif untuk masing-masing pasangan dari kondisi ini adalah terganggunya kesehatan fisik dan mental kedua belah pihak,” jelas Yuli.
Dari hasil penelitian di Amerika (Bloom, 1978), berbagai efek negatif itu adalah peningkatan risiko psikopatologi, meningkatnya kasus bunuh diri, kecelakaan lalu lintas, tindak kekerasan pada pasangan, kekurangan atau kehilangan daya tahan tubuh, kematian karena ketegangan psikis. Efek negatif dari kondisi ini lebih fatal terjadi pada anak-anak, antara lain merusak perkembangan psikologis anak-anak, seperti depresi, menarik diri dari pergaulan sosial kompetensi sosial yang rendah, kesehatan fisik dan mental yang terhambat, performasi akademis anak menurun, gangguan perilaku yang berkaitan dengan kesukaran emosional, kekerasan, ketergantungan narkoba, dan kegagalan pendidikan formal.
Kunci menghindari pecahnya perkawinan atau perkawinan yang selalu dalam konflik ini adalah dengan mengoreksi niat berkeluarga. ”Upayakan selalu ingat bahwa tujuan hidup adalah mencapai rida Allah dan melakukan ibadah,” kata Yuli.
Bila konflik terbuka telanjur terjadi atau perceraian tak bisa dihindari, jalan satu-satunya adalah mengomunikasikan hal ini dengan anak. Beri anak sebuah alasan yang dapat dipahami dan menenangkan anak. ”Kalaupun terjadi perceraian akibat konflik itu, orang tua harus menjelaskan pada anak bahwa apa pun yang terjadi di antara mereka, hal itu tidak akan memengaruhi tugas dan tanggung jawab orang tua terhadap anak-anak, terutama masalah kesejahteraan anak,” ujarnya. (Uci)***
(Harian Pikiran Rakyta, 10 Januari 2010)
—————————————————————————————————————————————————
Link :http://newspaper.pikiran-rakyat.com/prprint.php?mib=beritadetail&id=121986